Beranda » News » Siapa Bilang Wartawan Itu Idealis dan Independen?

Siapa Bilang Wartawan Itu Idealis dan Independen?

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

  • 79,544 Orang

Headline di Kompasiana pada 13 Agustus 2012.

Oleh : Imi Suryaputera

image
Semoga kondisi yang model begini tak terjadi di daerah lainnya menyangkut dunia pers, atau lebih tepatnya wartawan atau jurnalis yang menjadi ujung tombak informasi publik.
Rasanya sangat terlampau muluk dan penuh idealisme sekali sebarisan kalimat yang sering kita dengar dan baca; “wartawan media ini dilarang menerima pemberian dalam bentuk apapun.”
Pernyataan idealis itu tak sebanding dengan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Menjelang lebaran ini, bagi mereka yang memungkiri tulisan saya ini, silakan luangkan waktu anda untuk mengamati (bilamana perlu investigasi) sepak terjang para wartawan dalam mencari dan untuk memenuhi kebutuhan mereka guna menyambut dan menghadapi lebaran.

Hari-hari menjelang lebaran ini para wartawan pun disibukkan dengan kegiatan mencari dan mengejar “THR” selain mencari bahan berita.
Kondisi yang saya ketahui seperti itu terjadi terhadap puluhan wartawan dari berbagai media yang bertugas di daerah saya.

Beberapa hari yang lalu setiap wartawan yang namanya terdaftar di Bagian Humas Pemkab di daerah saya, dari pihak Pemkab setempat, sudah menerima selain berupa paket, juga semacam uang “THR” sebesar Rp 1 juta, ditambah sebesar Rp 1 juta rupiah berupa insentif bulanan.
Selain itu beberapa perusahaan di bidang pertambangan batubara yang beroperasi di daerah saya, juga memberikan semacam THR kepada para wartawan yang selama ini mereka kenal baik, tak pandang apakah medianya terkenal atau tidak.

Contohnya adalah sebuah perusahaan pertambangan batubara terbesar di wilayah propinsi Kalsel, PT. Arutmin Indonesia Tambang Batulicin, memberikan semacam uang THR kepada puluhan wartawan dengan nilai sebesar Rp 250 ribu.
Yang sangat disayangkan, menurut salah seorang dari pihak perusahaan tersebut, sempat ada beberapa wartawan yang protes karena namanya tak tercantum dalam daftar yang dibikin oleh perusahaan sebagai penerima THR. Bahkan diantaranya ada yang sampai mengancam akan mencari-cari kesalahan perusahaan jika namanya tak dimasukkan daftar.

Masih menurut pihak perusahaan, pemberian uang semacam THR itu hanyalah menjadi semacam kebijakan yang tidak wajib dilakukan. Pemberian pun lebih kepada penghargaan terhadap para wartawan yang selama ini meliput berbagai kegiatan sosial perusahaan. “Sebetulnya jika terdapat wartawan yang tak terdaftar, tidak perlu sampai ribut dan mengeluarkan kata-kata ancaman. Kalau hanya beberapa orang yang tak terdaftar, pihak kami tentu akan mengambil kebijakan agar mereka juga bisa diberikan THR,” ungkap pihak perusahaan.

Sangat memalukan ! Itulah kalimat yang saya rasa tepat dilontarkan terhadap kondisi yang demikian. Tak dipungkiri situasi dan kondisi menjelang lebaran ini, setiap orang, sipapun dia dan apapun jabatan dan profesinya, pasti sangat memerlukan dana untuk dapat berlebaran dengan nyaman. Namun sangat tak elok jika sampai uang yang didapat dari hasil yang tak mengenakkan.

Nah, jika sipapun menginginkan wartawan atau jurnalis tak menerima pemberian apapun terkait pekerjaan dan profesinya, dibenahi terlebih dahulu aturan main, antara lain dengan memberikan gaji yang tinggi kepada mereka.
Dan bagi siapapun yang berharap terlalu banyak terhadap idealisme dan independensi wartawan, coba simak setiap media massa di negeri ini siapa yang membiayai.

Media massa besar di negeri ini dibangun dan dibiayai oleh para kapitalis, pengusaha besar dengan berbagai kepentingannya. Idealisme dan independensi para pelaku jurnalis rasanya sangat sulit diharapkan. Karena wartawan atau jurnalis yang bekerja menjadi ujung tombak, akan diatur dan disetir oleh kepentingan si kapitalis pemilik media.
Media yang dibangun dan dibiayai oleh Negara yang nota bene berasal dari kocek rakyat saja, nyatanya lebih berfungsi sebagai corong kepentingan pemerintah, bukan membela kepentingan dan memberikan informasi yang benar-benar dibutuhkan rakyat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: