Beranda » ARTKEL » “Polisi Nakal” dan Hari Bhayangkara ke-66

“Polisi Nakal” dan Hari Bhayangkara ke-66

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

  • 79,544 Orang

Headline di Kompasiana pada Juni 2012

Untuk suatu keperluan ke rumah temannya, tetangga kami meminjam sepeda motor istriku (karena selalu dipakai istri meski aku yang beli). Atas seijinku, istri pun meminjamkannya kepada tetangga kami itu.

Sekitar seperempat jam kemudian, tetangga kami tersebut menelpon istriku, mengatakan bahwa sepeda motor yang ia kendarai ditahan polisi lalulintas yang “ngepos” di perempatan jalan. Melalui telpon ia katakan, ia bersama dengan seorang temannya ditahan polisi karena keduanya tak menggunakan helm. Polisi akan memberikan surat Tilang dengan jumlah yang harus dibayar sebesar Rp 1,5 juta.

Aku pun mendatangi pos polisi di perempatan jalan itu. Kepada 2 anggota polisi yang berada di pos itu aku menyatakan kalau yang dikendarai oleh kedua wanita itu adalah sepeda motor istriku.
Salah seorang polisi menanyakan apakah sepeda motor istriku itu memiliki surat menyurat yang lengkap. Tentu saja kukatakan ya, karena kedatanganku kesana sambil membawa semua surat menyurat sepeda motor tersebut, dan memperlihatkannya kepada kedua polisi yang tak mengenalku itu.

“Kedua wanita ini ada hubungan apa dengan bapak ?” tanya salah seorang polisi.
Aku katakan kalau salah seorang dari mereka adalah tetanggaku.
“Sepeda motor istri bapak tetap kami berikan surat Tilang,” cetus polisi itu.
“Silakan, berapa nantinya yang mesti dibayar di persidangan ?” tanyaku.
“Kesemuanya sebesar Rp 1,5 juta, pelanggarannya adalah; tak menggunakan helm, tak memiliki SIM, serta tak memasang kaca spion,” jelas polisi itu pula.

Aku pikir dasar nasib apes hari ini. Ingin berbuat baik tapi malah buntung. Aku pun tak habis pikir kenapa tetanggaku bersama temannya tak menggunakan helm, padahal kami sudah menyediakannya. Dan celakanya lagi ia tak memiliki SIM, serta yang menjadi kesalahan satu-satunya dari pihak kami adalah istriku tak memasang kaca spion di sepeda motornya.

“Buatkan saja surat Tilang-nya,” ujarku yakin.
Kulihat polisi itu ragu-ragu ingin menulis di formulir surat Tilang.
“Bayar Tilang-nya lumayan mahal lho, pak,” kata polisi itu.
“Nggak apa-apa, terus mesti gimana lagi. Saya anggap ini kelalaian istri yang meminjamkan sepeda motornya kepada orang lain,” sahutku.
Setelah beberapa saat terdiam, polisi itu berkata, “sebetulnya bisa saja bapak tidak membayar sejumlah itu, dan tak kami berikan surat Tilang.”
“Maksudnya gimana ?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
“Bapak bisa saja mengeluarkan uang tak sampai separuhnya,” jawab si polisi.
Jawaban si polisi itu sudah aku duga sebelumnya, karena istriku melalui SMS yang diforward dari tetangga kami mengatakan si polisi minta Rp 500 ribu agar sepeda motor tak diberi surat Tilang.

Mengetahui jawaban polisi begitu, muncul niatku ingin “mengerjai” polisi yang rupanya “nakal” ini.
“Nggak, biar saya minta diberi surat Tilang saja. Saya sebetulnya malu kalau sampai sepeda motor istri saya kena Tilang, apalagi saya seorang Wartawan yang sehari-hari memberitakan berbagai hal termasuk pelanggaran hukum,” kataku sambil mengeluarkan Press ID dari dalam dompet dan memperlihatkannya kepada kedua polisi tersebut.
Air muka kedua polisi itupun kulihat tampak berubah pias setelah mengetahui statusku.
“Saya akan telpon Kasat Lantas Polres dulu untuk konfirmasi masalah ini,” ujarku sembari melangkah keluar pos.
Langkahku keluar pos ini diikuti oleh salah seorang dari polisi itu.
Aku benar-benar bermaksud menelpon Kasat Lantas Polres yang memang akrab denganku, namun saat itu ponselnya tak dapat dihubungi.
“Pak, saya mohon bapak ga usah menelpon Kasat. Nanti beliau pasti menelpon ke kami, dan bapak pasti tahu sendiri akibatnya nanti,” ujar si polisi memohon.
“Ga apa-apa kok, saya cuma mau bilang ke komandan kalian kalau sepeda motor istri saya kena Tilang, dan saya bersedia mematuhi aturan mainnya,” jelasku.
“Jangan pak. Silakan sepeda motor istrinya dibawa saja. Dan tolong masalah ini jangan pernah diceritakan ke Kasat,” ujar si polisi akhirnya.

Agar sepeda motor istriku itu dapat kembali dikendarai, aku terpaksa pulang mengambilkan helm untuk tetanggaku dan temannya. Dan urusan pun selesai tanpa merogoh kocek sepeser pun, serta tanpa surat Tilang.

Tadi malam aku menonton acara Kick Andy di Metro TV, dimana menampilkan peran Polri terhadap para korban cacat kecelakaan di jalan, turut hadir di acara itu Wakapolri, Komjen Polisi Nanan Soekarna, yang mengutarakan mindset baru Polri sebagai pelayan yang minta diawasi dan dikritisi tugas-tugasnya untuk kemajuan dan profesionalitas Polri.

Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara Ke-66 tahun 2012 ini, harapanku adalah mindset Polri tersebut tak hanya berupa retorika kosong dan lip services saja. Tak ada lagi “polisi nakal” meski tak dapat diharapkan semua anggota polisi dapat bersikap jujur seperti “patung polisi”, “polisi tidur”, dan “polisi Hoegeng”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: