Beranda » CERPEN » Mendung Di Pelupuk Mata Bunda

Mendung Di Pelupuk Mata Bunda

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

  • 79,544 Orang

Oleh : Siti Nurhidayati

Senja merah menggantung dengan indah di ufuk barat, di depan rumahku.
Masih terasa hawa basah dan dingin yang menyergapku, karena hujan yang
menguyur desaku sejak subuh hingga zuhur tadi. Mulai terdengan bunyi
kodok bersahut-sahutan seperti sedang membuat pertunjukan yang terus
berjalan dengan harmoni yang unik. Terkadang hal itu membuat aku
tersenyum sendiri karena suaranya yang terdengar lucu. Tapi hal itu
tidak terjadi hari ini.

Semenjak dua hari lalu aku kedatangan orang yang pernah melahirkanku
dan langsung meninggalkanku ditempat nenekku. Nyai, begitu aku
memanggil nenekku, sering sekali kuhujani dengan berbagai pertanyaan
tentang Ibuku namun nyai tak pernah menjawab. Saat aku mulai masuk
sekolah pertama, barulah aku bosan mencari tau tentang Ibuku. Entah
apa yang ada di pikirannya hingga dia tega meninggalkan aku begitu
saja. Leherku serasa tercekik setiap mendengar guru agamaku menyatakan
agar berbakti kepada Ibu kita yang telah dengan susah payah
membesarkan kita. Tapi apa? kenyataan yang kudapat tidak sesuai dengan
apa yang dikatakan guru agamaku itu.

“Agus, maghrib nak, masuklah,” ibu memanggilku dengan nada yang
dilembutkan. Aku memang tidak suka dengan kehadiran ibu yang tiba-tiba
itu. Sehingga aku tidak terlalu memperhatikannya, itulah sebabnya
komunikasi kami tidak begitu baik, bahkan bisa dibilang buruk.

Aku melengos saja masuk rumah, dan langsung ke belakang untuk
mengambil air wudhu. Didalam shalat aku merasa terguncang. Ada
pergolakan hebat dalam batinku, disisi lain aku memang merindukan
sosok seorang ibu dalam kehidupanku, namun disisi lain aku tidak bisa
menerima kenyataan kalau nyai meninggal setelah sehari bertemu ibu,
aku merasa ibu lah menjadi penyebabnya.

Sekitar jam delapan malam, kudengar ibu sedang memasak. Tercium aroma
makanan kesukaanku tumis ikan peda yang membuat aku teringat akan
saat-saat kubersama nyai, makanan itulah yang menjadi kesukaanku dan
selalu dimasakkan oleh nyai setiap hari minggu. “Nak, ayo makan, ibu
masak ikan peda karena ibu suka sekali ikan peda dan ibu pikir kamu
pasti akan suka juga,” ibu membuyarkan lamunanku. “agus alergi,”
jawabku singkat dan langsung meninggalkan ibu yang masih berada di
pintu dapur. Entah kenapa aku bisa sekasar itu pada ibu. Dalam hatiku
yang paling dalam, sungguh kusesali perkataanku barusan.

Aku menelusuri jalan setapak yang masih terasa agak licin, setelah
sampai di pinggir desa, kuhentikan langkahku dan bersandar di pohon
pisang yang banyak berjajar di dekat gapura. Disini aku banyak
mengingat kenangan masa kecilku bersama Seto, Bima, Ari dan beberapa
kawanan lain. Dulu ketika kami berada dalam satu Sekolah Dasar, setiap
pulang sekolah saat musim pisang berbuah, kami membawa kantong kresek
putih yang besar dan mengambil pisang-pisang yang sudah menguning.
Dengan sigapnya kami memetik pisang itu dan memasukkannya didalam
kresek. Kami memang harus cepat, karena tak lama setelah itu, pak
lurah akan mengejar kami sambil berteriak mengumpat. “dasar anak-anak
nakal, bikin jengkel banget,” seru pak lurah waktu itu. Aku tersenyum
sendiri mengingat itu. Yang kutahu waktu itu aku bahagia saja meskipun
tanpa Ibu, namun aku sangat iri juga melihat teman-temanku dimanja dan
disayang oleh ibu mereka.

Namun kenapa nyai harus pergi, padahal aku tak pernah bisa
membayangkan bila tidak ada nyai dalam hidupku. Kenapa harus ibu yang
menjadi pengganti nyai. Huh, dengan seenaknya saja dia menempati rumah
nyai, masak didapur nyai. Aku benci melihat itu semua. Sungguh Tuhan
tak adil menurutku. Harusnya ibu tidak kembali datang sehingga semua
ini tidak terjadi. Arrggghh, ingin pecah kepalaku memikirkan semua
ini. Aku tidak mau wanita yang telah mencampakkanku begitu saja dengan
mudahnya menggantikan nyai yang begitu menyayangiku dan mengurusku
selama ini.

Aku beranjak pulang dengan nafas yang penuh kemarahan, aku akan
membuat wanita itu pergi dari rumah nyai. Tidak akan lagi kubiarkan
dia menyentuh barang-barang yang pernah menjadi milik nyai. Dalam
hatiku yang penuh dengan kemarahan, aku berencana akan membuatnya
menyesal karena telah meninggalkanku.

Sampai didepan rumah, kubuka pintu rumah dan masuk. Aku dengan cepat
mencari ibu. Dikamar nyai, tidak ada, dikamarku, tak ada juga, aku
berjalan cepat ke dapur, nihil. Aku berpikir sejenak, lalu dengan
pelan aku berjalan ke ruangan nyai yang biasa digunakan untuk
melaksanakn shalat dan mengaji. Begitu masuk, aku sungguh terperanjat.
“nyai,” bisikku pelan. Kulihat wanita sedang shalat ditempat nyai,
sungguh mirip dengan nyai. Tapi tidak mungkin itu nyai, pikirku.
Karena tidak mungkin nyai bisa keluar dari dalam tanah. Aku duduk di
pintu ruangan, kutunggu wanita itu menyelesaikan shalatnya, sungguh
tenang hatiku didekatnya.

“Tuhan, berilah anakku kehidupan yang baik dan indah di dunia dan
akhirat. Jangan beri dia nasib sepertiku yang harus merantau untuk
dapat menyambung hidup kami. Ampunilah dosanya dan beri dia petunjuk
agar dia bisa menerimaku kembali. Tuhan, beri ibuku tempat yang layak
karena beliau sudah menepati janjinya untuk terus menjaga anakku dan
menjaga rahasiaku, amin ya robbal alamin,” nyaris lemah lututku
mendengar doa ibu yang terdengar begitu tulus. Kemarahan yang sedari
tadi menguasaiku langsung luluh seketika. Ingin rasanya aku memeluknya
dan meluapkan kerinduanku selama ini. Tapi tidak, aku mengenda-ngendap
masuk ke kamar nyai, kuperiksa tumpukan arsip diatas lemari. Kulihat
arsip yang paling kusam dan kubuka, semakin miris ketika aku tau kalau
itu adalah kumpulan surat-surat dari ibu selama dia pergi. Dari
surat-surat itu, aku tahu kalau ibu tidak pernah meninggalkanku. Ibu
pergi bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dan nyai. Demi untuk
menyambung hidup kami, ibu menjadi seorang buruh bangunan, pekerjaan
yang harusnya dikerjakan oleh seorang laki-laki. Terbersit rasa bangga
dalam benakku, karena perjuangan ibu yang luar biasa.

“Agus, apa yang kamu cari nak?” ibu masuk, lamunanku buyar dan dengan
sigap membereskan arsip dan meletakkan kembali seperti semula. Ibu
terus memperhatikanku dengan heran. Aku merasakan mataku merah karena
ingin menangis, tapi kutahan. Aku adalah seorang laki-laki dan aku
harus kuat. Itulah ajaran nyai yang terpatri kuat dalam diriku. “ibu
masak apa?” tanyaku pada ibu sembari mengucek mataku untuk menutupi
ekspresiku. “ikan pedas nak,” jawab ibu.

Kurangkul ibu, “ayo kita makan bu,” kataku sembari mengajak ibu
kedapur. Ibu tiba-tiba memelukku, terasa ada air yang menetes dibahuku
dan sungguh terasa amat dalam tangisan ibu. Aku tak bisa lagi menahan
butiran-butiran air di mataku yang sejak tadi mendesak ingin keluar.
Kami bertangisan bersama. Sejak lima belas tahun yang lalu aku merasa
ada bagian dari diriku yang hilang, dan kini aku telah menemukannya
kembali. My mom is my life.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: