Beranda » CERPEN » Demi Anak Dan Suami, Kurela Melacur

Demi Anak Dan Suami, Kurela Melacur

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

  • 79,544 Orang

Oleh : Imi Suryaputera

Sudah hampir setengah jam yang lalu, Sumiati menunggu kata ijin yang keluar dari mulut suaminya, Syahrul. Namun suaminya itu tetap diam, asyik menyedot asap rokoknya, menghembuskannya dengan nafas berat.

Ingin rasanya Sumiati berteriak sehingga suaminya cepat mengiyakan, atau sebaliknya melarang ia pergi. Sumiati sudah sangat gelisah menanti jawaban suaminya.

Sumiati meminta ijin kepada Syahrul untuk pergi ke kota Kabupaten yang jaraknya lebih dari seratus kilometer dari tempatnya tinggal kini, di sebuah kota Kecamatan.
Bila diijinkan suaminya, biasanya Sumiati pergi menjelang sore dengan mengendarai sepeda motor yang baru beberapa bulan ia beli secara cicilan.

Di kota Kabupaten yang lumayan ramai, Sumiati bekerja, menjual kehangatan kepada para pria hidung belang. Ia bekerja sendiri tanpa perantara seorang mucikari.
Di tempat mangkalnya, di suatu kawasan yang banyak warung teh dan kopi, Sumiati menunggu pria yang memerlukan jasanya.

“Pergilah, besok datangnya jangan terlalu siang, hati-hati di jalan,” akhirnya ijin itu terlontar juga dari mulut Syahrul.
“Terima kasih, bang !” Sahut Sumiati yang nyaris saja terlonjak kegirangan.
Tentu saja Sumiati girang, karena jika tak diijinkan suaminya, artinya tak ada pemasukan untuk biaya rumah tangga dan biaya anak-anaknya sekolah.

Ia pun menyiapkan berbagai keperluannya, seperti HP dan charger-nya, serta alat-alat kosmetik.

Lisa, anak Sumiati yang berumur 14 tahun dan adiknya, Madi yang berumur 9 tahun, tak kelihatan, sehabis makan siang sepulang dari sekolah, keduanya keluar rumah. “Bang, saya pamit,” kata Sumiati sembari berjalan ke arah Syahrul yang kemudian mencium tangan suaminya itu.
Syahrul cuma mengangguk pelan atas pamitnya Sumiati.

Sumiati yang hampir mendekati usia 40 tahun, berkulit coklat, tinggi sedang rata-rata wanita Indonesia, rambut sebahu hitam campur pewarna pirang, body cukup aduhai mengundang selera pria, masih terlihat cukup cantik.

Hari agak sore saat Sumiati berangkat dari rumahnya. Ia mengendarai sepeda motornya dalam kecepatan sedang. Sumiati akan sampai ke tempat tujuan sekitar lebih 2 jam bila tak ada halangan.

Sumiati tiba di tempat tujuan setelah shalat isya usai. Ia menuju sebuah warung makan langganannya untuk mengisi perutnya sebelum memulai mencari “pasien”.
“Baru datang, Sum,” basa-basi ibu pemilik warung yang memang sudah kenal Sumiati cukup lama.
“Iya, bu. Minta nasi sop, satenya lima, sama teh es,” sahut Sumiati sembari pesan makanan dan minumannya.
“Kok kelihatan agak sepi malam ini, bu (?)” ujar Sumiati.
“Iya sih, beberapa malam ini kurang rame, katanya banyak tambang batubara yang nggak bisa kerja,” ungkap pemilik warung sekenanya.
“Oh ya,” cuma itu yang bisa keluar dari mulut Sumiati.

Sambil menunggu pesanannya pikiran Sumiati membayangkan keadaan di tempat mangkalnya yang kurang rame malam ini. “Wah gawat, bisa-bisa nggak bawa duit pulang besok,” bathin Sumiati.

Usai makan malam, Sumiati pun pergi ke tempat mangkalnya, di belakang kumpulan warung, dekat pangkalan ojek yang diterangi lampu jalan remang-remang.
“Dari mana, Sum ?” sapa Titin, salah seorang yang berprofesi sama dengan dirinya.
“Dari warung bu Ani, makan malam,” jawab Sumiati.

Sumiati mengambil tempat, duduk di sebuah kursi kayu panjang berjarak beberapa meter dari para tukang ojek dan tukang becak mangkal menanti penumpang. Sumiati tak bisa lagi mengingat sudah berapa kali ia duduk di kursi kayu itu menanti pria hidung belang berbagi kehangatan dan rejeki dengan imbalan tubuhnya.

Sambil membuka nomor-nomor kontak di ponselnya, Sumiati sesekali mengalihkan pandangannya ke pangkalan ojek, siapa tahu ada tamu untuknya malam ini. Sumiati terus berharap, tepatnya berdoa agar ada pria yang tertarik kepadanya. Meski sebenarnya Sumiati sadar pekerjaannya ini berlumuran dosa, namun baginya tak ada pilihan lain.

Cukup lama Sumiati duduk di tempatnya, ia kira hampir 2 jam. Seorang tukang ojek kenalannya menghampiri. “Sum, ada yang cari teman, tapi ia cuma berani 200 ribu, gimana ?” tanya Anto, si tukang ojek.
“Boleh deh sebagai penglaris, nanti buat kamu 25 ribu,” jawab Sumiati.
“Oke, tunggu disini aku bilang ke orangnya,” kata Anto sambil beranjak.
“Alhamdulillah, akhirnnya ada juga yang tertarik padaku,” gumam Sumiati pada dirinya sendiri.

Seorang pria agak gondrong ditemani si tukang ojek mendatangi Sumiati. “Kita ketemu di penginapan DA, aku duluan,” kata pria itu tanpa memperkenalkan diri kepada Sumiati.
“Ya mas, sampeyan duluan, saya nyusul,” sahut Sumiati sambil berdiri dan beranjak mengambil sepeda motornya.
Bagi Sumiati tak perlu tahu siapa nama pria yang mengajaknya kencan. Ia butuh duit, bukan yang lainnya, privasi orang lain.

Malam ini Sumiati hingga menjelang hampir subuh, berhasil memperoleh 2 orang “pasien”, penghasilannya bersih 375 ribu.
“Lumayan lah untuk malam ini, masih bisa bawa uang pulang,” Sumiati membathin.

Menjelang warna merah semburat di ufuk timur, Sumiati sudah bersiap dengan sepeda motornya menuju pulang, menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Syahrul, suami Sumiati, sudah lama tak bekerja. Sehari-harinya Syahrul bila bosan di rumah, pergi memancing, atau kumpul-kumpul dengan sesama temannya yang pengangguran.
Syahrul bukan tidak tahu apa yang dilakukan istrinya setiap kali meninggalkan rumah. Tapi Syahrul berpikir, “ah biar saja, yang penting tidak melakukannya di tempat tinggalnya.”
Selain itu Syahrul selama ini sudah keenakan menganggur tanpa harus bersusah payah mencari duit.
Meski begitu, tak jarang pikiran Syahrul diliputi kecemburuan bila membayangkan istrinya dalam pelukan dan bercinta dengan pria lain. Bila sudah begini, ingin rasanya Syahrul meracuni istrinya, atau menggoroknya saat sedang tidur, atau menikam mati satu persatu pria yang pernah meniduri istrinya.
Namun hal itu tentu saja tak akan pernah berani dilakukan Syahrul terhadap Sumiati. Ia masih memikirkan masa depan anak-anaknya. Lagi pula yang dikerjakan istrinya itu untuknya dan anak-anak mereka.

Sering kali Syahrul berpikir untuk menghentikan pekerjaan istrinya itu. Tapi ia selalu belum siap untuk bekerja keras menghidupi keluarganya. Syahrul yang cuma lulusan SD, tak memiliki keahlian yang mesti diperlukan untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
“Maafkan aku, bang. Mereka setiap saat dapat membeli tubuhku, tapi tak akan pernah memiliki hati dan cintaku. Suatu saat nanti bila simpananku cukup, aku akan berhenti untuk mencari usaha lain,” ungkap Sumiati suatu ketika kepada suaminya.
Syahrul hanya dapat melengos menghindari tatapan mata Sumiati. Ada rasa perih dalam dadanya sekaligus bangga mendengar ungkapan istrinya. Didekapnya erat-erat Sumiati, dibelainya rambut istrinya itu dengan perasaan sayang.

Dalam perjalanan pulang Sumiati beberapa kali harus berhenti. Kepala dan matanya terasa berat oleh kantuk karena semalam suntuk tak tidur. Ia lelah, bukan saja raganya yang lelah, tapi juga jiwanya. Namun demi masa depan kedua anaknya, serta suaminya yang tak bekerja, ia rela menjual harga dirinya. Terbayang di pelupuk matanya saat tabungannya sudah cukup untuk memulai usaha, dan mengakkhiri pekerjaannya ini. “Ya Tuhanku, ampunilah dosaku, berikan aku petunjuk-Mu agar semua ini cepat berakhir,” doa Sumiati dengan penuh harapan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: