Beranda » ARTKEL » Buka Warung di Siang Hari Puasa, Kurang Saingan

Buka Warung di Siang Hari Puasa, Kurang Saingan

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

  • 79,544 Orang

Headline di Kompasiana pada Juli 2012

Seperti bulan puasa yang lalu, warung Mbak Mien (nama panjangnya Aminah, panggilannya biar terdengar keren), di bulan puasa ini tetap selalu ramai didatangi pengunjung pada siang hari. Apalagi letak lokasi warung Mbak Mien yang cukup strategis (maksudnya jauh dari keramaian umum), yakni di seputar pelabuhan bongkar muat.

Orang-orang yang tak berpuasa, dari berbagai strata sosial, membaur menjadi suatu kumpulan semacam jamaah orang yang tak berpuasa.
Harga makanan dan minuman yang agak sedikit lebih mahal dari bulan-bulan sebelumnya, tak masalah bagi para anggota jamaah dadakan tersebut. Bahkan bagi yang datang belakangan, mereka tak masalah kehabisan tempat duduk didalam warung. Mereka duduk di bangku kayu dibawah tenda yang disediakan di depan warung, yang penting asal kebagian makanan dan minuman.

Sebetulnya aku tak pernah tahu ada warung yang buka dan melayani pembelinya di bulan puasa. Aku pikir pasti tak ada sepenggal warung pun, bahkan secuil yang berupa warung berani membuka dagangan dan jualannya di siang hari; dari pagi hingga menjelang sore, karena Pemerintah Daerah setempat sudah menghadangnya dengan Peraturan Daerah (Perda) yang memuat larangan untuk itu disertai sanksi yang cukup keras, di kotaku warga mengenalnya dengan sebutan Perda Ramadhan, karena terpakai cuma di bulan Ramadhan.
Suatu hari di bulan puasa tahun lalu, aku tak melaksanakan puasa karena ketinggalan sahur. Kebetulan ternyata seorang teman juga, Masran sama tak berpuasa. Ia mengajakku jalan mencari warung yang buka dan melayani pembeli di siang hari. Dari Masran lah sehingga aku tahu menuju warung Mbak Mien jika aku sedang tak berpuasa. Menurut Mbak Mien, ia membuka warung tiap siang hari di bulan puasa, sudah selama empat tahun.

“Mbak Mien tidak takut digrebek dan ditutup Sartpol PP karena buka warung di siang hari ?” tanyaku sambil bersendawa karena sudah kemasukan nasi sepiring penuh.
“Awalnya sih takut juga. Habis mau gimana, jualan di bulan-bulan lain itu sepi, banyak saingan yang buka,” ungkap Mbak Mien.
“Terus kok si Mbak bisa tetap jualan dan aman dari Satpol PP ?” tanyaku lagi.
“Sebenarnya saya sudah beberapa kali dapat teguran. Tapi saya bilang terus terang ke mereka apakah mereka mau menanggung beban hidup kami sekeluarga jika melarang jualan. Memangnya kalo saya jualan dosanya mereka yang tanggung ?” ujar Mbak Mien dengan suara agak meninggi.
“Iya juga sih. Tapi mereka minta sesuatu nggak dari Mbak ?” tanyaku menyelidik.
“Nggak ada sih, cuma saya aja yang mesti ngerti kalo mereka datang kesini. Yah, ngasih buat makan dan rokok atau uang jalan gitu lah,” beber Mbak Mien sambil mengaduk es teh manis pesanan seorang pengunjung.

Aku jadi mengerti kenapa Mbak Mien mau mengambil dan menanggung dua resiko sekaligus dengan membuka dan melayani pembeli di siang hari di bulan puasa. Resiko pertama Mbak Mien telah melanggar Perda, yang bisa saja sewaktu-waktu ia digelandang oleh Satpol PP; warungnya ditutup, dan Mbak Mien dapat sanksi. Resiko kedua adalah, Mbak Mien melakukan dosa karena turut membantu berlangsungnya tindak kemunkaran, melayani orang-orang yang semestinya berpuasa (ini perkiraanku saja, entah bagi yang merasa ahlinya).
“Habis mau gimana, jualan di bulan-bulan lain itu sepi, banyak saingan yang buka.” Alasan Mbak Mien ini kuingat. Ada benarnya juga alasan itu, meski tetap selalu salah menurut pandangan para Moralis dan Agamawan. Karena argumen mereka adalah, rejeki itu Tuhan yang Atur. Lagian sudah diberi 11 bulan untuk bebas jualan, Tuhan cuma minta 1 bulan istirahat, masa nggak mau juga sih ?

Ah, biar saja orang-orang mau berargumen dan saling bersitegang urat leher mengenai bukanya warung Mbak Mien di siang hari bulan puasa. Aku datang ke warung itu hanya untuk keperluan tidak berpuasa. Yang lainnya juga sama setujuan denganku, tidak berpuasa. Apakah Mbak Mien berdosa atau tidak, masalah buat loe ?
Tapi menurut versi para anggota jamaah dadakan yang tak berpuasa langganan warung Mbak Mien, karena Mbak Mien sudah membantu menyediakan keperluan mereka, maka Mbak Mien layak dapat pahala. “Daripada merepotkan orang-orang di rumah yang sedang puasa, lebih baik ke warung saja kan ?” cetus beberapa orang serempak.
Ternyata bila orang memiliki tujuan yang sama, meski tindakan mereka dianggap salah, bisa kompak secara berjamaah, hehehe……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: