Beranda » ARTKEL » BBM Made In Sendiri; Oli Bekas Campur Minyak Tanah

BBM Made In Sendiri; Oli Bekas Campur Minyak Tanah

ANDA PENGUNJUNG YANG KE

  • 78,766 Orang

Headline di Kompasiana pada Juni 2012

Ini pengalamanku ketika beberapa tahun lalu akan berkunjung ke salah satu pemukiman suku Dayak Meratus di perbatasan Kabupaten Banjar dengan Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan. Kedua kabupaten tersebut sedang bersengketa terkait tata batas kabupaten, yang mana konon di wilayah sengketa itu menyimpan deposit mineral yang cukup feasible; batubara dan bijih besi.

Kedua kabupaten yang sedang bersengketa itu pun berlomba menarik perhatian dan mengambil hati para warga yang bermukim di wilayah perbatasan tersebut.
Aku yang bertempat tinggal di wilayah Tanah Bumbu, oleh Bupati pada waktu itu, dengan 2 orang teman lainnya diminta mengunjungi wilayah sengketa dengan membawa bantuan berupa peralatan sekolah dan sejumlah uang untuk warga.

Perjalanan dari Batulicin, ibukota kabupaten Tanah Bumbu kami lakukan dengan menggunakan mobil ke Martapura, ibukota kabupaten Banjar, menempuh jarak hampir 300 kilometer. Jalanan lumayan enak karena beraspal hotmix.
Perjalanan dari Batulicin ke Martapura yang lumayan enak, kemudian kami tebus dengan jalan yang lumayan menyiksa badan; jalan tanah yang berlumpur seperti kubangan kerbau.

Mobil yang aku adalah “driver”nya, terpaksa dititipkan di sebuah rumah warga di wilayah status quo yang akan memasuki wilayah sengketa, setelah mendapatkan “trouble”, sebilah besi sebesar jempol tangan dekat ban belakang patah.

Kami sebelumnya tak mengira kalau jalan menuju ke wilayah sengketa itu sangat rusak, sampai-sampai mobil double guardan (4 WD) saja mikir berkali-kali kesana.
Dari warga setempat kami mendapat informasi, bila ingin ke wilayah itu mesti menumpang ojek sepeda motor dengan menempuh jarak 20-an kilometer lebih.
Biaya ojek per orang ke wilayah itu sebesar Rp 600 ribu pulang pergi.

Aku tak akan mengulas masalah biaya ojek kesana.
Yang menarik aku adalah BBM yang digunakan oleh para tukang ojek itu. Ketiga tukang ojek itu semuanya menggunakan sepeda motor jenis 2 tak. Mereka tak mengisi sepeda motornya dengan bensin seperti yang lazim dilakukan, tapi dengan BBM made in sendiri; campuran antara oli bekas dengan minyak tanah dengan kadar oli bekas lebih banyak daripada minyak tanah.

Dengan menggunakan BBM oplosan tersebut, sepeda motor tetap berlari kencang, namun dengan asap yang mengepul dan suara yang memekakkan telinga.
Menurut para tukang ojek tersebut, BBM oplosan mereka itu bahkan dapat menghasilkan daya lebih besar daripada bila menggunakan bensin. Entahlah, aku sama sekali belum pernah mencobanya, dan tak akan pernah mencobanya dengan sepeda motorku.

Pengalamanku terkait BBM oplosan ini berlanjut. Ketika melakukan liputan investigasi atas kelangkaan BBM jenis solar yang dialami para nelayan di wilayah pesisir Pagatan Kusan Hilir, aku kembali mendapati para nelayan yang kesulitan memperoleh solar itu, mengganti BBM-nya dengan oplosan oli bekas bercampur minyak tanah pula.
Pikirku pantas saja oli-oli bekas itu tak dibuang oleh para pekerja bengkel. Ternyata yang bekas itu dapat didaur ulang untuk bahan bakar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 295 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: